Minggu, 21 Oktober 2012

sejarah perkembangan folklor


A.    Sejarah Perkembangan Folklor
Seperti yang telah diterangkan, folklor merupakan sebagian kebudayaan, yang penyebarannya pada umumnya melalui tutur kata atau lisan, itulah sebabnya ada yang menyebutnya sebagai tradisi lisan (oral tradition).
Penggunaan islilah tradisi lisan untuk meggantikan istilah folklor tidak disetujui, karena istilah tradisi lisan, mempunyai arti yang sangat sempit. Tradisi lisan hanya mencakup cerita rakyat, teka-teki, peribahasa, nyanyian rakyat, sedangkan folklor mencakup lebih dari itu, seperti tarian rakyat dan arsitektur rakyat.
William John Thoms, orang yang pertama kali memperkenalkan istilah folklor ke dalam dunia ilmu pengetahuan, ia seorang ahli kebudayaan antik (antiquarian) Inggris. Thoms mengakui bahwa dialah yang menciptakan istilah folklore untuk sopan santun Inggris, takhayul, balada dan sebagainya dari masa lampau, yang sebelumnya disebut dengan istilah antiquities, popular antiquities, atau popular literature.
Ahli folklor di dunia dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
1.      Ahli folklor HUMANISTIS (humanistic folklorist), yakni ahli folklor yang berlatar belakang ilmu bahasa dan kesusasteraan. Para ahli folklor humanistis tetap memegang teguh definisi W.J. Thoms, yakni memasukkan ke dalam folklor bukan saja kesusasteraan lisan (cerita rakyat dan lain-lain), melainkan juga pola kelakuan manusia (tari, bahasa isyarat), bahkan juga hasil kelakuan yang berupa benda material (arsitektur rakyat, mainan rakyat, dan pakaian rakyat).
2.      Ahli folklor ANTROPOLOGIS (anthropological folklorist), yakni ahli folklor yang berlatar belakang ilmu antropologi. Para ahli folklor antropologis membatasi objek kajian pada unsur-unsur kebudayaan yang bersifat lisan saja (verbal arts), misalnya: cerita prosa rakyat, teka-teki, peribahasa, syair rakyat, dan kesusasteraan lisan lainnya.
3.      Ahli folklor MODERN (modern folklorist), yakni ahli folklor yang berlatar belakang ilmu-ilmu interdisipliner. Para ahli folklor modern mempunyai pandangan yang terletak di tengah-tengah di antara kedua kutub perbedaan itu tadi. Mereka bersedia mempelajari semua unsur kebudayaan manusia asalkan diwariskan melalui lisan atau dengan cara peniruan.
Sebagai akibat belum adanya kesatuan pendapat, maka tidak perlu merasa heran apabila masih ada negara-negara di dunia ini yang mempergunakan istilah lain untuk folklor. Di Prancis misalnya, istilah folklore dipergunakan di samping istilah tradision populair. Di Inggris dipergunakan folklore, sedangkan di negara-negara Eropa lainnya dipergunakan istilah volkskunde dan folk-liv (folk life). Walaupun istilah folklor sudah dikenal di Eropa Barat, namun artinya masih terbatas pada folklor lisan saja.

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts