Minggu, 21 Oktober 2012

Pengertian Folklor


Kata folklor adalah pengindonesiaan kata Inggris folklore. Kata itu adalah kata majemuk, yang berasal dari dua kata dasar folk dan lore.
Folk sama artinya dengan kata kolektif (collectivity). Menurut Alan Dundes, folk adalah sekelompok yang memiliki cirri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya. Ciri-ciri pengenal itu dapat berwujud:
1.      Penanda fisik (warna kulit, bentuk rambut, dan sebagainya)
2.      Penanda sosial (mata pencarian, taraf pendidikan, kegiatan)
3.      Penanda budaya (bahasa, budaya, kegiatan, agama, dan lain-lain.)
Namun yang lebih penting adalah bahwa mereka telah memiliki suatu tradisi, yakni kebudayaan yang telah mereka warisi turun-temurun, sedikitnya dua generasi, yang dapat mereka akui sebagai milik bersama. Dan yang penting lagi, mereka sadar akan identitas kelompok mereka sendiri.
 Lore adalah tradisi folk, yaitu sebagian kebudayaannya, yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat mnemonic device.
Definisi folklor secara keseluruhan: folklor adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device).
Pengertian folkor Indonesia berbeda sekali dengan pengertian folklor yang diartikan oleh para sarjana Belanda dari zaman sebelum Perang Dunia II, yang membatasi folklor hanya sebagai kebudayaan petani desa Eropa, sedangkan kebudayaan orang luar Eropa adalah kebudayaan yang primitif. Hal itu disebabkan adanya anggapan dari zaman kolonial bahwa walaupun folklor (kebudayaan petani desa Eropa) lebih rendah dari kebudayaan kota atau bangsawan Eropa, namun lebih luhur jika dibandingkan dengan kebudayaan primitif seperti Indonesia. Akibatnya pada masa itu ada pembagian kerja di antara para ahli folklor dan ahli etnologi. Pada masa itu ilmu folklor disebut dengan istilah volkskunde, sedangkan etnologi atau antropologi disebut volkenkunde.
Jadi arti folk yang digunakan di Indonesia lebih luas daripada yang dipergunakan sarjana Belanda. Hal ini disebabkan orang-orang yang dikategorikan ke dalam folk adalah “anggota-anggota kolektif macam apa saja.” Jadi bukan hanya macam petani desa, apalagi petani desa Eropa saja.
Dari pengertian folk yang berbunyi: “sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik maupun kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya,” maka objek penelitian folklor Indonesia menjadi luas sekali. Jadi yang menjadi objek penelitian folklor Indonesia adalah semua folklor dari folk yang ada di Indonesia, baik yang di pusat maupun yang di daerah, baik yang di kota maupun yang di desa, di kraton maupun yang di kampong, baik pribumi maupun dari keturunan asing, baik warga Negara maupun asing, asalkan mereka sadar akan identitas kelompoknya, dan mengembangkan kebudayaan mereka di bumi Indonesia. Bahkan penelitian folklor Indonesia dapat diperluas lagi dengan meneliti folklor dari folk Indonesia yang kini sudah lama bermukim di luar negeri, seperti orang Indo Belanda di negeri Belanda atau di California, dan orang Jawa di Suriname.
Agar dapat membedakan folklor dari kebudayaan lainnya, harus terlebih dahulu mengetahui ciri-ciri pengenal utama folklor pada umumnya, yang dapat dirumuskan sebagai berikut.
a.       Penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan, yakni disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut (atau dengan suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat, dan alat pembantu pengingat) dari satu generasi ke generasi berikutnya.
b.      Folklor bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau dalam bentuk standar. Disebarkan di antara kolektif tertentu dalam waktu yang cukup lama (paling sedikit dua generasi).
c.       Folklore ada (exist) dalam versi-versi bahkan varian-varian yang berbeda. Hal ini diakibatkan oleh cara penyebarannya dari mulut ke mulut, biasanya bukan melalui cetakan atau rekaman, sehingga oleh proses lupa diri manusia atau proses interpolasi (penambahan atau pengisian unsur-unsur baru pada bahan folklor), folklor dengan mudah mengalami perubahan. Walaupun demikian perbedaannnya hanya terletak pada bagian luarnya saja, sedangkan bentuk dasarnya dapat tetap bertahan.
d.      Folklor bersifat anonim, yaitu nama penciptanya sudah tidak diketahui oleh orang lain.
e.       Folklor biasanya mempunyai bentuk berumus atau berpola. Cerita rakyat misalnya, selalu mempergunakan kata-kata klise seperti “bulan empat belas hari” untuk menggambarkan kecantikan seorang gadis, dan lain-lain.
f.       Folklor mempunyai kegunaan dalam kehidupan bersama suatu kolektif. Cerita rakyat misalnya mempunyai kegunaan sebagai alat pendidik, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan terpendam.
g.      Folklor bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai logika umum. Ciri pengenal ini terutama berlaku bagi folklor lisan dan sebagian lisan.
h.      Folklor menjadi milik bersama (collective) dari kolektif tertentu. Hal ini diakibatkan karena penciptanya sudah tidak diketahui lagi, sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya.
i.         Folklor pada umumnya bersifat polos dan lugu, sehingga seringkali kelihatannya kasar, terlalu spontan. Hal ini dapat dimengerti apabila mengingat bahwa banyak folklor merupakan proyeksi emosi manusia yang paling jujur manifestasinya.
Suatu folklor tidak berhenti menjadi folklor apabila telah diterbitkan dalam bentuk cetakan atau rekaman. Suatu folklor akan tetap memiliki identitasnya selama diketahui bahwa ia berasal dari peredaran lisan. Ketentuan ini lebih-lebih berlaku apabila suatu bentuk folklor, cerita rakyat misalnya, yang telah diterbitkan itu hanya sekedar berupa transkripsi cerita rakyat yan diambil dari peredaran lisan. Permasalahan dapat timbul apabila suatu cerita rakyat telah diolah lebih lanjut, seperti Sangkuriang dari Jawa Barat, yang diolah oleh sastrawan Ajip Rosidi menjadi karangan kesusastraan yang berjudul Sangkuriang Kesiangan (1961) maka pertanyaannya adalah apakah ia termasuk folklor? Jawabannya adalah “ya” dan “bukan”, karena bentuk cerita Sangkuriang ini sudah mempunyai bentuk antara, yakni folklor (kesusastraan lisan) dan kesusastraan tulis. Akibatnya versi Ajip Rosidi ini dapat dijadikan objek penelitian seorang ahli folklor atau seorang ahli kesusastraan tulis.

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts